Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

0 Apakah Mereka?

 
Tuhan…
Lagi-lagi aku ingin mengadu pada-Mu
Mengadu tentang apa yang selama ini mengembala pikiranku
Jauh ke sebuah belukar raga dunia
Dunia yang belasak
Dunia yang buntu

Lihatlah mereka Tuhan…
Aku ditindas, diinjak, lalu dikubur di sebuah tanah yang sempit
Mereka pengen lihat jasadku dipecut oleh dua malaikat-Mu
Direndam lalu dimusnahkan bak debu yang bertebaran
Aku ingin mengadu Tuhan…
Mereka…
Manusia-manusia yang picik
Dunianya bak agamanya
Agamanya disingkirkan
Dunia diunggulkan
Apalagi ini Tuhan…

Tuhan…
Lagi-lagi aku ingin bertanya pada-Mu
Bertanya tentang zaman yang kian bodoh
Terbelakang.. Menyudut di sebuah simbol ketidakberaturan

Apakah manusia-manusia yang kini bergumam kapital
adalah kunci dari manusia yang bergumam tentang
“Kapan kami bisa makan, kapan kami bisa tenang”
Dan aku, masih akan selalu bertanya
Apakah mereka, apakah mereka, apakah mereka?
Read more

1 Bila Aku Adalah Ramadhan

Bila aku adalah ramadhan
Biarkan kalbu menggerakanmu
Membawamu pada tempat
yang tak lagi mengenal batas-batas rindu.
Pada padmasanaku
kurengkuh dari setiap a ba ta tsa
Hembusan nafas, kerlingan air mata yang tiada henti meneteskan ampun,
Aku masih bersamamu

Bila aku adalah ramadhan
Aku akan menunggumu di sini
Tepat di antara bisikan tasbih dan alunan firman-firman suci
Aku melihatmu mengaji lembaran ayat-Nya di bibir pantai
Tepat, ketika laut harum dan pasir-pasir lupa pada ombak yg tafakkur.
Malam ini, kamu dan aku mengaji!
Mengaji tentang alam dan epidemik makhluk

Maghrib yang meraung dan adzan yang menyala,
hujan belum tiba.
Bila tujuh-belas purnama telah sampai,
lalu merah di bukit alifku,
Di sanalah makam bagi surup-surup jisimmu.
Datanglah, datanglah, datanglah dengan maut yang mengabu
Aku juga masih akan selalu bersamamu

Malam ini bulan menyaksikan kita yang sedang gundah tak berarah
Bintang yang kian menyoroti gerak-gerik kita pun tak luput dengan ingatannya
Maka, aku dan mereka pun tak jauh beda memperhatikanmu
Bila aku adalah ramadhan

Read more

0 Pesan Tuhan Untuk Ibu

Rambut putihnya tergulai sayu
Jatuh di atas dahi perlahan layu
Sekujur tubuhnya sudah hampir kaku
Tergeletak di atas ranjang kayu
Menghibur malaikat dan mencoba merayu
Dengan senyuman,
Atau hanya sebatas do’a baku

Sajadah tua itu terlipat rapih di sampingnya
Al-qur’an itu masih siap untuk dibaca
Air wudhu masih beradu dengan tetesan airmata
Mempertaruhkan nyawa
Hanya untuk sebaris do’a

Tubuh kakunya terkulai lemas
Wajah layunya tersirat rasa cemas
Rambut sayunya masih membias
Menanti sebuah jawaban yang terbatas
Dengan tempat yang pantas
Untuk sosok berwajah emas
Maka airmatanya tidak merasa puas
Kalau neraka tempat yang pantas
Untuk sosok berwajah emas

Ibu,
Hidupmu bukan satu kali ini saja
Maka berharaplah agar mandapat ridha-Nya
Agar surga menjadi jaminannya
Izrail sudah mengerti sebelumnya
Suratan ini bukan lembaran undangan pesta
Melainkan perintah dari Yang Maha Kuasa
Air wudhumu masih membekas di keningmu
Do’a anakmu masih disampingmu
Kan selalu menemanimu
Sampai Tuhan serukan waktu
Read more

0 Pesan Tuhan Untuk Ayah

Keriput wajahnya mulai tumbuh
Mengitari hampir seluruh tubuh
Dia hanya seorang pematuh
Dari majikannya yang menyuruh
Agar mengayuh tenaga dari munculnya waktu subuh
Sampai senja gemakan tabuh

Keringatnya mengalir di dahinya
Gambaran betapa beratnya dunia
Dalam otaknya seakan bertanya
Mengapa Yang Maha Punya
Menciptakan dunia untuknya

Urat-uratnya menjalar
berantakan bagai akar
Dia bukanlah orang yang pintar
1+1 saja masih terlalu sukar
Hanya semangat yang membakar
Hingga ia terlihat begitu tegar
Meniti hidup yang semakin pudar

Ayah,
Ingin kusampaikan pesan Tuhan kepadamu
Agar kau tidak terlalu memandang semu
Engkau dan aku hanyalah seorang tamu
Yang merasakan indahnya dijamu
Walau itu sepahit jamu
Kita bukanlah musuh
Dengan pikiran yang masih rusuh
Air setetes untuk membasuh
Segala dosa bercampur pilu
Maka di sanalah kita kan bertemu.
Read more

0 Patung Jendral Sudirman

Beberapa tahun lalu kau berkuasa
Menegakkan kemerdekaan Indonesia
Beberapa tahun kebelakang kau dihormati
Karena jasamu yang kau buat sampai kau mati
Kini tak lagi kulihat penghormatan bangsa
Kau kini menjadi patung mati
Berdiri diantara jalan raya yang penuh kesombongan
Menghormat kepada bangsa yang penuh dengan keacuhan

Wahai Sudirman…
Apa yang kau hormati di depanmu
Tak layak kau hormat dengan tanganmu yang dulu
Berlumuran darah bercampur airmata pilu

Wahai Sudirman…
Apa yang kau segani dari bangsa yang penuh dengan kenistaan
Tak layak kau tegakkan tanganmu menatap jalan
Diantara gedung-gedung pelahir sang pecundang

Wahai Sudirman…
Kini kau tak akan pernah melihat
Bangsa yang dulu kau bela
Kini seakan menjadi gila
Yang hanya memegang teguh pancasila
Tanpa didasari keikhlasan untuk menjalankannya


Wahai Sudirman…
Turunkan tanganmu Sudirman
Tak pantas kau hormat
Sedangkan si kaya masih berpesta
Diatas si miskin yang meminta

Wahai Sudirman…
Turunkan tanganmu Sudirman
Tak pantas kau hormat
Sedangakan bangsa masih dikuasai si mata sipit
Yang membuat nurani bangsa semakin sempit

Wahai Sudirman…
Turunkan tanganmu…. Turunkan tanganmu
Tak pantas kau hormat dengan bangsa yang mengacuhkanmu
Turunkan… Turunkan

( Terinspirasi dari Film Nagabonar 1 )
Read more

2 Orang Gila

 Menjadi orang gila itu enak
Hidup tidak diganggu
Segala miliknya
Bahkan lebih dari segala

Menjadi orang gila itu enak
Tidak ada kekasih
Tidak ada yang dipikirkan
Apalagi cemburuan

Menjadi orang gila itu enak
Enak makan, enak minum, enak hidup
Tidak ada peraturan
Karena peraturan hanya untuk manusia normal

Menjadi orang gila itu enak
Maka tidak semua orang bisa jadi gila
Karena orang gila adalah manusia pilihan
Yang ditunjuk untuk tidak punya peraturan

Berbahagialah untuk semua orang gila
Karena hidup jadi manusia normal
lebih susah, daripada jadi orang gila
Read more

0 Nyenyak

Keadaan masih berkerut

Kairo dingin masih berkabut

Fajar pagi hampir menyambut

Aku masih senang berselimut
Read more

2 Kangen Kalian

Ada apa dengan malam ini
Aku rindu emak
Aku rindu belaiannya sebelum tidur
Aku rindu dongengnya
Apa karena aku sudah dewasa
Lantas dongeng tidur itu hilang
Mak
Aku suntuk
Hidupku penuh dengan kasak-kusuk
Masalah demi masalah datang mengutuk
Aku suntuk

Ada apa dengan malam ini
Awak kangen abah
Lama tak jumpa, gimana kabar abah
Abah
Awak kangen dengan kipasanmu
Di sini awak dikipas banyak keluh kesah
Sebelum tidur mereka selalu datang
Pengen masuk ke mimpiku, katanya

Adik-adikku
Aku kangen juga sama kalian
Gimana dengan nakal kalian
Masih disimpan kah?
Aku pengen pulang
Cuma bingung
Takut dengan kondisi negara kita
Banyak blok di sana
Aku ngeri sama blok-blok yang ganas
Bila perlu, kalian lah yang sesekali menjengukku
Jarang sekali kalian datang ke mimpi
Tak kangen kah dengan aku

Emak, abah, adik
Tiap hari aku mimpi kalian
Apa kalian mimpikan aku
Tapi, dengan keadaanku sekarang
Bukan masa depan
Kalau itu, tiap hari kupikirkan
Nanti, kapan-kapan
Bilang lah sama dewa tidur
Suruh dia kasih mimpi dengan keadaan aku sekarang
Kalau aku lagi kangen sama kalian
Read more

0 Menunggu

Sampai saat ini
Aku menunggu
matahari redup dan tak bersinar

Sampai detik ini
Aku menanti
hujan tak lagi berbicara dengan kehidupan

Bukan maksud aku menanti kiamat
Hanya menanti sebuah teguran yang mengena
yang datang langsung dari Tuhan
Biar aku tidak lagi sendiri menanti
Manusia sekarang sudah mulai kenal mantera
Permasalahan kecil dibuat besar
Sampai dukun pun semakin marak menjual nama

Tuhan
Aku masih menunggu
Meski waktu sudah tidak lagi menemani
Read more

0 Kidung Para Pemimpin

Pemimpin
Adalah kunci sebuah cita,
adalah cita sebuah masa depan,
adalah masa depan sebuah kehidupan,

Pemimpin
Adalah manusia mulia
adalah mulianya manusia
adalah manusia yang paling mulia
di antara mulianya manusia-manusia di sekelilingnya

Kali ini kami berdiri di sebuah tebing
Dalam kawasan padang berpasir
Kami dihadapkan pada hamparan pasir-pasir cokelat
Melayangkan sebuah lembaran bertuliskan
“Lindungi kami wahai pemimpin!”
“Kami percaya Anda!”
“Akankah Anda menerima aspirasi-aspirasi kami?”

Ya Allah…
Kami bersimpuh padamu malam ini
Dalam khusyuk do’a dan istikharah kami
Kami butuh petunjukmu ya Allah
Adakah jalan menuju sebuah kepemimpinan
yang Kau inginkan?

Ya Allah…
Maafkan kami, bila dalam do’a dan istikharah kami
masih menggebu untuk sebuah kursi
Maafkan kami, bila dalam kehidupan ini
masih selalu terngiang sebuah jabatan
Maafkan kami, ya Allah…

Sembah sujudku dalam do’a dan istikharahku
Kusampaikan…
Istajib du’aana ya Allah
Walau dalam sebuah mimpi
Kami ingin Kau buka mata kami yang kecil dan penuh dengan dosa ini
Kami ingin Kau buka hati kami yang kecil lagi tak berdaya ini
Kuatkan kami dalam setiap langkah
dan dalam setiap hembus nafas kami
Ya Allah…

Istajib du’aana, yaa mujiiba as-saailiin
Read more

1 Abstrak

Aku melihat….
Mereka berjalan dengan ribuan kaki
Badannya tak beraturan
Abstrak….
Aku mendengar….
Siulannya menggema se-antero jagat
Bibirnya besar menggelepar
Cacat….
Aku merasakan…..
Getarannya begitu kuat
Terasa sampai ke pelosok kampung
Aku terlempar…..

Aku dan aku dan aku…..
Bukanlah kamu di antara kamu dan kamu
Karena mereka hanya kurasakan
Bukan kamu rasakan
Apa yang kamu rasakan
Sudah kurasakan
Dari sebelum kamu merasakannya
Jangan angkuh terhadap-Nya
Karena dia sudah merasakan
Daripada apa yang kamu rasakan
Dan apa yang akan  kurasakan
Read more

0 Islamku Sedang Diuji

Meratapi tembok pembatas ambon
Disana kurenungi ratusan rakyat
Bernyanyi nada sedih
Bermusikkan senapan
Berdendang kematian

Anak kecil itu tersungkuh jalannya
Tertutup matanya
Putus kakinya
Mencari
Dan meneriakan
Ayah....
Ibu.....
Kakak...
Dimana jasad kalian tersimpan

Meratapi tembok pembatas ambon
Disana kulihat daratan bangkai
Terbentang dari ujung sampai ke ujung kota
Tangisan sedu terdengar di antaranya

Kristen bangsaaattt
Sang bapak berteriak
Namun setelahnya
Doorrr...
Peluru memintanya diam

Meratapi tembok pembatas ambon
Maka disanalah islamku diuji
(persembahan untuk Ambon)
Read more

0 Inikah Wakil Negaraku?

Kesombongan memang terkadang ada
Bukan hanya terkadang
Bahkan pasti
Manusia apa
Yang kau ciptakan
Yang kau beri pikiran
Melebihi kapasitas otak hewan
Tapi, disalah gunakan menjadi
Rendah daripada hewan

Apakah ini manusia yang kau ciptakan
Hidup dengan penuh kesibukan
Hanya untuk sebuah perayaan
Tanpa memikirkan kemanusiaan
Yang dia punya
Dari mulai adam diciptakan

Apakah ini manusia yang kau bentuk
Dengan ragam dan pikiran
Yang terlihat suntuk
Kenapa tidak kau jadikan dia makhluk terkutuk
Lebih terkutuk dari bangkai yang busuk

Apakah ini sikap seorang wakil negara
Yang terangkat hanya dengan suara
Pemikirannya....
Tingkah lakunya...
Oohhhh...
Lebih dari seekor kera
Yang ketika dia bicara
Tutur katanya...
Pembicaraannya
Oohhhh...
Seakan melebihi panasnya api nereka
Padahal dia hanyalah manusia
Yang dihidupkan dari tanah
Namun sombongnya sebusuk nanah

Lihat kami wahai wakil negara
Kami wargamu
Kami tanggung jawabmu
Kami bagian dari negaramu
Mana realisasimu
Mana pembicaraanmu
Mana kemanusiaaanmu
Mana dan mana dan mana

Pikirkan olehmu
Masa depan kami
Masa depan negri kami
Pikirkan olehmu
Sanubari busukmu
Dan pikiran kera mu
Pikirkan itu
Read more

0 Indonesia

Hijau jadi cokelat 
Biru jadi abu-abu 
Tinggi jadi rendah 
Rendah jadi tinggi 
Oksigen jadi karbondioksida 
Yang baik jadi yang jahat 
Itulah Indonesia 
Indah kan?
Read more

0 Hitam di antara Merah Putih

Tam, tam si hitam Bergentayangan
Di tengah malam
Tam, tam si hitam menodai bangsa
dengan tangan penuh dosa
tam, tam si hitam kini berjaya diatas si putih
akan terus menerus menjadi hitam sampai si putih merintih
hitam melekat yang tak akan pernah hilang
walau si hitam dicampur dengan warna lain
karena hitam akan tetap menjadi hitam
dan si putih sengsara
karena ditutupi si hitam
si hitam bejad
si hitam penghancur bangsa

oh....
hitam hitam hitam
engahlah si hitam lalu pergi menutupi si merah
si merah menjadi hitam
karena si hitam tak punya teman
si hitam pekat
si hitam yang bangsat
dan pasti bejad

kini kedua warna menjadi hitam
tertutupi warna pekat
ciri bangsa akan menjadi biadab
dengan noda yang timbul berwarna hitam

jaga si merah dan si putih itu
agar dia tidak terkena noda si hitam
si hitam yang bangsat
dan pasti bejad
ciri bangsa akan menjadi biadab
tanpa akhlak yang beradab
Read more

0 Hanya Diam

Seorang kakek tua berkata,
Ambil semua cinta yang dia punya
Rentetan peristiwa jangan sampai kau lupa
Ingatan tentang wajahnya apalagi
Yang seperti itu hanya kau yang punya
Apa kau mau semua yang kukatakan
Hilang begitu saja dimakan zaman?
KENAPA KAU HANYA DIAM?
Read more

0 Gumaman Garuda

Zaman terus berkembang
Manusia di sekelilingku mulai biadab
Pemerintah semakin menghegemoni
Aku masih saja jadi gantungan kunci
Atau sekedar penghias ruangan

Hey bapak-bapak yang paling tinggi
Sudah kubilang, aku ingin bebas
Terbang mengelilingi pulau
Tapi kenapa sayapku masih saja kau paku
Tenang saja, aku hanya ingin terbang
Bukan menyaksikan kalian curang

Hey para pelajar
Sampai kapan sekolahmu memaku aku
Aku bukan burung biasa
Aku lambang negaramu
Yang tidak pernah bahagia
Apalagi untuk tenang

Beginilah kalau aku tidak terbang
Korupsi di mana-mana,
yang miskin malah semakin jatuh,
roda kehidupan kempes,
rakyat awam semakin asik berbincang politik,
dan itu… Kalian paham lah

Enyahlah semua keinginanku
Padahal hanya satu saja
‘Bhineka Tunggal Ika’
Mungkin aku akan dilepas
Kalau aku jadi burung gila
Baiklah, tunggu aku di sebuah zaman
Burung garuda akan gila
Tunggu saja
Read more

0 Entahlah

Matahari akan terus jadi matahari
Bulan pun sama
Tak beda dengan bintang
Apalagi bumi
Tapi, kenapa manusia selalu berubah
Bukankah manusia akan tetap manusia
Atau cuma sebutan saja?
Entahlah
Read more

0 Dua Botol Whiskey

Dua botol whiskey kulempar jauh
Melintasi dua benua besar,
menyebrangi tiga samudera,
dan akhirnya sampai di depan rumah
Entah apa yang akan dia lakukan
dengan dua botol whiskey yang kulempar

Dua botol whiskey berwarna cokelat tua
dengan surat pengantar rindu
Aku berusaha menggapaimu
dengan dua jantung yang menempel di leher botol
Lalu, apa yang akan kau lakukan
dengan botol whiskey berwarna cokelat tua itu
Melemparkannya kembali?
atau memecahkannya,
atau bahkan membuangnya
Menganggap itu hanyalah botol bekas
Dari peralatan dapur tua yang usang

Aku menanti jawabanmu di dua benua itu
Kau lempar
Maka di sanalah kutangkap
Hanya untukmu saja
Read more

0 Do'a Seorang Pendosa

Ramadhan kariem,
Karena ramadhan bulan yang penuh dengan barakah
Karena ramadhan bulan yang penuh dengan maghfirah
Karena di dalamnya juga al-qur’an diturunkan
Karena di dalamnya juga manusia-manusia bertaubat
Karena di dalamnya juga semua makhluk bersujud di hadapan-Nya

Ya Allah,
Aku bertanya pada-Mu malam ini
Dalam sembah sujudku
Aku bertanya pada-Mu ya Allah
Adakah secercah cahaya taubat Kau limpahkan padaku
Malam ini…
Aku tidak mau ramadhan pergi,
Sedangkan dosa masih membumbui kehidupanku
Aku tidak mau ramadhan usai
Sedangkan pahala masih sulit untuk kugapai
Ya Allah…
Adakah secercah cahaya taubat Kau limpahkan padaku
Malam ini….

Di tempat ini aku membayangkan sebuah masa
Di mana jahiliyah masih mengumbar-umbar kebodohan
 Lalu, ketika itu Kau perintahkan Jibril-Mu
Untuk memberikan wahyu kepada Muhammad
Berupa kata-kata “iqra”
Aku malu dengan dunia saat ini
Ya Allah…
Mereka lebih senang membaca tulisan-tulisan digital
Mereka lebih hoby menulis huruf-huruf kebohongan
Sedangkan kala itu,
Muhammad dipaksa tiga kali hanya untuk membacakan kata-kata “iqra”
Aku malu dengan dunia saat ini
Ya Allah…

Aku ingin menjadi salah satu di antara penduduk FirdausMu
Namun aku masih malu
Karena noda-noda pekat masih menempel rapat di keningku
Aku ingin menjadi salah satu di antara muslim kaaffah-Mu
Yang kau janjikan kekal di dalam surga
Namun aku masih malu
Karena kesalahanku malah mengunci rapat pintu-pintu surgaMu.
Ya Allah…
Terimalah do’a taubatku malam ini
Semoga ia dapat menembus lapisan-lapisan langit
Dan tidak akan memantul karena kepulan awan-awan dosa.

Ramadhan kariem… ramadhan kariem… ramadhan kariem,
Aku ingin seperti makhluk-makhluk hidup lainnya
Selalu bersujud di hadapan-Mu
Ya Allah…
Aku tidak ingin Izrail kelak memaksa arwahku untuk keluar dari jasad
Berlapis dosa ini
Istajib du’aana
Ya Allah
Fa yaa mujiiba as-saailien.
Read more
 
© 2010 Catatan Mahameru Nugraha is proudly powered by Go! Blog
Inspirasi hidup yang membawaku bisa seperti ini. Life will find a way.