Torehan Pena Mahameru (Edisi 1)

Musim dingin hampir memasuki puncaknya. Tak pelik dengan tahun, ia pun sudah bosan dengan angka yang selama ini tertulis di setiap kalender. Pagi ini aku dibangunkan oleh mimpi. Mimpi yang tidak jelas, lebih mendekati abstrak, namun entahlah ia masih bermakna atau tidak. Sengaja tak kupejamkan kembali kedua mata ini. Percuma, yang ada hanya rasa penasaran yang berlebihan. Bagus, ada satu komputer menganggur. Daripada kosong, lebih baik menulis rangkaian kata abstrak juga. Malam ini aku bermimpi bertemu dengannya. Kenapa semua itu bisa ada, sedangkan aku sendiri masih bingung. Dia lagi dia lagi, padahal sudah lama aku melupakannya.

Aku tidak betah, bertahan lama di negara ini. Aku ingin pulang. Kembali ke tanah air, dan melanjutkan kuliah di sana, itupun kalau masih ada kesempatan untuk kuliah. Kalau tidak, terpaksa kerja. Lingkunganku tak seperti dahulu. Semuanya berubah. Mereka, orang-orang yang berada di sekelilingku kini sudah terlihat garang. Kusadari kesalahanku besar. Tapi, kenapa mereka semua masih menyimpannya? Aku bingung. Hanya beberapa orang saja yang mau berteman denganku. Sisanya, sudah pergi. Benar apa yang dikatakan bang Bento kala aku bermain ke rumahnya. Lingkungan sudah tidak mengenal arti sosialisme. Apa jadinya, kalau semua ini hanya dijadikan acuan ketidakpastian. Mereka bergaul dengan kalangannya. Aku, kelompok menengah ke bawah, ditindas dengan permainan mereka. Ada apa dengan dunia saat ini. Kenapa dunia begitu kejam menindas kalangan sepertiku.

Aku tidak betah, bertahan lama di negara ini. Aku ingin pulang. Kembali ke tanah air. Bertemu sanak saudara, dan teman-teman semua. Ingin kutuangkan semua pengalamanku kepada semua orang, bahwa aku pernah hidup dengan orang yang penuh warna. Entah bagaimana bapak menanggapi, atau ibu. Tak bisa kubayangkan.

Kairo kuanggap sebagai kain kanvas, dan Mesir kuanggap sebagai peyanggahnya. Semua orang yang pernah berteman denganku, kuanggap bagai cat minyak. Pendidikan hanya sebuah koas lukis, tak jauh beda dengan akhlak. Gambaranku tak begitu jauh dengan apa yang ada, akhlak hanya sebatas minyak pelumas cat. Dan aku. Aku adalah panorama bias lukis. Pelukisnya kehidupan, dan takdir. Sampai saat ini aku masih tidak mengerti dengan apa yang dilukiskan kehidupan dan takdir. Bagaimana mereka berdua mengoleskan cat lukis di atas kanvas. Dan, bagaimana hasilnya, pertanyaan kecil itu tergambar jelas, kala bus melaju dari arah Tajammu’ Awwal. Berbanggalah kepada mereka yang sudah mendapatkan sandingan huruf Lc. Gambar yang dilukiskan kehidupan dan takdir, membuahkan hasil yang memuaskan. Semuanya menyatu, dan bangga.

Aku diam sejenak, merenungi hasil torehan pikiranku lewat senja sore di ujung Masbak. Daerah paling ujung, itu kata orang-orang. Diamku dijawab oleh burung-burung kecil. Mereka berkata, bahwa hidup masih memiliki jutaan pertanyaan lagi. Aku diam, dan diam, dan diam, dan diam, dan diam, dan pergi.

29 Desember 2009

comment 4 comments:

lina@happy family on 26 Mei 2010 14.39 mengatakan...

Bagus sekali pemilihan kata2nya

readhermind-dy on 27 Mei 2010 04.57 mengatakan...

suka tulisannya deh, ringan..
:)

Mahameru Nugraha mengatakan...

Terimakasih Bu Guru semua. Sekedar share curhatan aja. Hehehe. Maklum, masih nubitol di Blogger. :D

upaiiii mengatakan...

prassss..... good bgt ciiii!!! bikin kngn ma cairo....!!!! kata2 luh bguuss bgt!!!!

Posting Komentar

.:( Komentar dari Pembaca Saya Tunggu ):.

 
© 2010 Catatan Mahameru Nugraha is proudly powered by Go! Blog
Inspirasi hidup yang membawaku bisa seperti ini. Life will find a way.