Review Film "Alangkah Lucunya Negri Ini"

“Biarkan orang-orang miskin mencari nafkah dengan cara yang halal!” Teriak Muluk di penghujung film yang berdurasi satu jam setengah ini. Indonesia patutnya bangga dengan hadirnya sebuah hidangan ke-sosial-an yang disajikan oleh sutradara handal Dedy Mizwar. Sebuah film yang bertemakan tentang, bagaimana seorang pencopet bisa berubah menjadi lebih baik, atau sedikit bisa mengurangi angka kriminal di Indonesia.

Berawal dari seorang Sarjana Manajemen yang kesulitan mencari pekerjaan, ditambah calon mertua yang ingin anaknya dinikahi oleh seseorang yang berpenghasilan tetap. Tentu begitu banyak cobaan, sampai akhirnya ia menemukan Komet. Seorang anak kecil yang tidak mengenal pendidikan bahkan pengajaran. Kesehariannya hanya disibukkan dengan mencopet, dan mencopet. Bagi Muluk, mungkin inilah peluang mengamalkan apa yang selama ini dia pelajari di meja kuliahnya. Ilmu manajemen. Tentunya keyakinan yang selama ini ia emban –pendidikan itu penting- benar-benar harus diterapkan, khususnya kepada kalangan pencopet begitu awam dengan kata pendidikan. Bersama Pipit dan Syamsul, mereka mulai mencoba memberikan metode terbaik dalam hal agama dan pendidikan. Sayangnya, di akhir ketika para pencopet mulai siap berubah menjadi pedagang asongan, jalan yang selama ini mereka tempuh terhambat dengan datangnya orangtua Pipit dan Muluk. Sepanjang Muluk, Pipit, dan Syamsul mendidik, kedua orangtua mereka tidak mengetahui bahwa uang yang dihasilkan anak-anaknya adalah hasil mencopet. Orangtua mana yang tidak terkejut menerima uang haram, maka peran Dedy Mizwar dan Slamet Rahardjo begitu pas dengan hadirnya Jaja Miharja yang terkenal begitu cerewet di setiap film yang dilakoninya. Pak Makbul –Dedy Mizwar- dan Pak Rahmat –Slamet Rahardjo- merasa anak-anaknya sudah melenceng dari jalur agama. Tentunya masih dengan kesalahpahaman orangtua. Dengan diakhiri sebuah tanda tanya besar bagi para penonton, bagaimana kelanjutan Komet dan kawan-kawan yang mulai beralih profesi dari pencopet menjadi pedagang asongan? Bagaimana dengan Glenn, apakah copet masih dianggap sebagai kewajiban? Lalu Muluk, apakah keputusan menikah dengan putri Haji Sarbini akan disambut kalimat persetujuan?

Alangkah Lucunya Negri Ini. Pemilihan judul yang begitu sempurna dengan isi di dalamnya. Tentunya dengan sedikit sentilan mengena pada tiap kejadian yang selalu mengikuti jejak para pengemis. Andai saja seorang pejabat bisa mendalami apa yang dimaksud Om Dedy di sini, mungkin mereka –pejabat- akan sedikit tercerahkan dengan pelbagai pemilihan adegan.

“Serius tapi santai” mungkin ini yang dijadikan acuan Om Dedy dalam meluruskan tiap adegan. Sayangnya, keseriusan itu terlalu terbuka. Hingga yang harusnya kita bisa menikmati dengan santai, malah yang ada lebih berpikir. Sisi pengambilan gambar yang tentunya harus diperhatikan, karena walau bagaimanapun film tidak akan menarik ketika melihat beberapa slide nya ada kesalahan. Sedikit yang harus dikoreksi adalah ketika Bos menegur para anak-anak yang baru saja bangkit dalam pendidikan, dengan cara yang begitu keras. Kekerasan dalam pendidikan boleh saja diterapkan kepada siapa saja yang “sudah mengenal”. Karena walau bagaimanapun kedudukan mereka saat itu baru saja bangkit, bukan yang sudah menganal dunia pendidikan.

Tidak ada yang bisa saya sampaikan setelah berhasil menahan airmata. Kalau tidak dengan film seperti ini, kapan Indonesia bisa tahu arti nasionalisme? Setiap film hanya disuguhi cinta dan cinta. Wajar saja, kalau banyak anak muda yang mulai menyeleweng dari aturan kewajaran. Saya rasa, cukup dengan merenungi tiap adegan di film ini, maka kita akan tahu betapa pentingnya sebuah pendidikan. Pendidikan yang membuat aturan, meski pendidikan juga yang kadang membuat kita menjadi lengah. Terakhir, saya kagum walau nilai kekaguman saya tidak sama dengan kagumnya Quentin Tarantino, minimal ini sudah membuktikan bahwa orang yang tidak terkenal pun mengagumi. Apalagi orang yang paham seluk beluk per-film-an (film nasionalisme, bukan film esek-esek).

( Indonesia Harus Pandai Membaca Situasi dan Kritik Sosial )

comment 2 comments:

-- Thiya Renjana™ -- on 11 Oktober 2010 13.03 mengatakan...

Belum bisa nonton... :(
dunludnya dimana?

Mahameru Nugraha mengatakan...

Ini linknya.. http://nadamusikindonesia.blogspot.com/2010/08/free-download-film-alangkah-lucunya.html

Download deh.. Terus nonton, tapi direnungin.. Lucu kan negri kita ini.. ^^v

Posting Komentar

.:( Komentar dari Pembaca Saya Tunggu ):.

 
© 2010 Catatan Mahameru Nugraha is proudly powered by Go! Blog
Inspirasi hidup yang membawaku bisa seperti ini. Life will find a way.